Senin, 20 Mei 2013

Menjadi Merek yang Usung Spiritualitas


Ada tren di tengah hiruk pikuk informasi seperti sekarang, orang berupaya mencari makna hidupnya. Katakanlah, di tengah kedangkalan dunia dengan segala macam informasi dan kemewahannya, orang mencari kedalaman. Orang ingin merasakan lagi hidup yang bergelimang makna. Tak sekadar berjalan otomatis seperti robot atau mengalir tanpa tujuan.

Kerinduan akan  spiritualitas ini menjadi tantangan bagi merek untuk memenuhi kebutuhan itu. Orang membeli produk bukan sekadar kebutuhan fungsional (functional value), tapi juga untuk kebutuhan spiritual (spiritual value). Nilai spiritual ini yang untuk konteks pemasaran saat ini akan memiliki kekuatan mengikat pelanggan (customer  bonding).
Merek yang mengusung nilai spiritual ini bukan diartikan secara sempit mengusung ajaran agama tertentu. Spiritual di sini tak lain adalah nilai-nilai yang dihidupi manusia, seperti integritas, kejujuran, keadilan, respek, dan sebagainya. Pada tahap ini, merek tidak lagi sekadar mengejar keuntungan (profit), tapi juga berkontribusi pada pembangunan kehidupan sosial-kemanusiaan (people), dan juga pelestarian lingkungan (planet). Konsep ini pula yang menjadi konten utama Marketing 3.0— pemasaran berbasis nilai-nilai manusia. Dalam konteks ini, opini spiritualis Deepak Chopra ada benarnya: “Pemimpin yang hanya mengejar tujuan-tujuan luar seperti uang, akan gagal.”
Membangun sebuah spiritual brand tidaklah segampang membalik telapak tangan. Proses ini membutuhkan kosistensi merek tersebut sehingga pelanggan bisa menaruh kepercayaannya kepada merek. Agar tidak sekadar hiasan bibir, nilai-nilai benar-benar ditanamkan kedalam seluruh tim perusahaan—dari CEO sampai karyawan pada tingkat paling bawah. Tujuannya, pelanggan akan merasa nyaman dan aman bila berkaitan dengan orang atau apa pun dari merek tersebut. Intinya, pelanggan percaya bahwa merek atau orang dalam perusahaan tersebut tidak bakal membohongi dirinya.
The Body Shop, misalnya, menjadi salah satu contoh dari spiritual brand tersebut. Visi sang pendiri, Anita Roddick, yang membangun bisnis dengan mengusung nilai-nilai lingkungan dan kemanusiaan diterjemahkan dalam aneka produk dan layanannnya.
Merek yang sudah pada tingkat ini biasanya memiliki pelanggan loyal. Dan, apabila ada kritik terhadap perusahaan atau merek, justru para pelangganlah yang akan membelanya dengan sukarela.  Mereka sering disebut dengan brand advocates.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar