Senin, 20 Mei 2013

Strategi Mengelola Brand Advocates


Boleh dikatakan Zappos, Trader Joe’s, Amazon.com, Method, Red Bull, The Body Shop, Google, dan Soda Stream membangun mereknya tanpa periklanan. Mereka memiliki para pembela mereknya sendiri atau yang populer disebut brand advocates.
“Kami membangun keseluruhan bisnis dan semua kategori dengan kekuatan para brand advocates kami,” kata Kristin Harp, Manajer Pemasaran Soda Stream AS seperti dikutip oleh Rob Fuggeta dalam FastCompany.

Dalam kenyataannya, tiga perusahaan media sosial paling berpengaruh– Facebook, Twitter, dan LinkedIn– tidak mengalokasikan bujetnya untuk membayar iklan atau orang untuk merekomendasikan mereknya. Mereka juga tidak membutuhkan peranan keduanya. Namun, para brand advocates menggunakan media sosial untuk merekomendasikan ketiga platform tadi kepada teman-temannya.
Banyak pemasar membelanjakan jutaan dolar untuk menggelar kampanye pemasaran mereka. Tapi, tidak ada yang lebih kuat daripada rekomendasi terpercaya dari brand advocate.
Rob Fuggeta menandaskan para brand advocates adalah para pemasar dan orang sales paling hebat bagi perusahaan. Alasan utama mengapa orang-orang lebih percaya pada brand advocates adalah cuma satu hal: kepercayaan! Sebuah survei global mengatakan semibilan dari sepuluh konsumen online lebih percaya rekomendasi dari sahabat dan anggota keluarga ketimbang dengan iklan.
Sementara itu, survei yang digelar Zuberance belum lama ini menunjukkan 89 persen para brand advocatesmerekomendasikan kepada temannya untuk membeli atau mempertimbangkan produk atau layanan yang pernah mereka dapatkan. Banyak konsumen dan pembeli mengesampingkan dan tidak mendengarkan pesan iklan. Namun, begitu para brand advocates ini memberi rekomendasi, kemungkinan besar mereka segera melakukan pembelian.
Para brand advocates saat ini sangat terbantu dengan kehadiran jejaring sosial. Di masa sebelum munculnya media sosial, jangkauan pengaruh brand advocates masih terbatas. Katakanlah hanya dalam lingkaran keluarga dan pertemanan. Sekarang, jangkauannya lintas batas. Termasuk lintas negara sekalipun. Sebuah riset mengatakan setiap kali konsumen memposting sesuatu di situs sosial, minimal postingan itu akan menjangkau 150 orang. Sekarang, ada sekitar 500 miliar respons word-of-mouth di situs media sosial setiap tahunnya di Amerika Serikat.
Asal tahu saja, istilah brand advocates dan follower maupun fans itu memiliki dua makna yang berbeda. Tapi, sering banyak orang salah kaprah menukar makna keduanya. Fans dan follower mungkin menyukai produk, tapi mereka tidak memberikan rekomendasi. Keduanya memiliki motivasi yang berbeda denganbrand advocates.
Lalu, bagaimana perusahaan memberdayakan para brand advocates lebih banyak lagi? Rob Fuggeta menawarkan lima langkah. Pertama, ciptakan dulu produk yang mengusung nilai unik atau gila. “Insanely great product” seperti dikatakan mendiang Steve Jobs. Advokasi dimulai dari kekaguman atas produk yang memang unik dan fenomenal.
Kedua, menciptakan layanan yang terus dikenang. Di era sekarang di mana bertebaran produk yang hampir sama, servis menjadi diferensiasi paling besar. Nordstrom, Zappo’s, dan Four Seasons Hotel merupakan contoh perusahaan yang menciptakan “pasukan pembela” dengan menyediakan layanan yang lain dari pada yang lain.
Ketiga, fokus pada manfaat positif. Semakin produk memiliki manfaat positif pada pelanggan, semakin besar peluang memiliki brand advocates yang lebih banyak lagi.
Keempat, melakukan langkah-langkah benar, termasuk bila hal itu membutuhkan banyak duit. Demi membangun kepercayaan, duit tidaklah masalah. Kepercayaan pelanggan menjadi modal paling besar bagi sebuah perusahaan maju dan berkembang.
Kelima, memiliki kesadaran sosial. Orang akan cenderung merekomendasikan perusahaan atau merek kepada orang lain kalau perusahaan itu memiliki kesadaran sosial. Orang akan memandang perusahaan yang memiliki upaya pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, secara lebih baik ketimbang yang tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar